h1

MEMAKNAI PENDIDIKAN DASAR PECINTA ALAM

September 20, 2011

DIKSAR PECINTA ALAM, sebuah kata yang tak asing didengar. Sebuah prosesi yang harus dijalani bagi calon penerus baru organisasi penggiat alam. Suatu ritual yang seakan menjadi momok menakutkan bagi mereka. Penuh tekanan, penuh persiapan, penuh finansial, sarat akan kekerasan, dan terkadang tak sedikit jatuh korban. Saya akan telaah sejenak, apakah benar demikian? Apa yang mendasari itu semua? dan, Ada apa dibalik proses pendidikan yang selama ini tetap dipertahankan?

Suatu ketika saya mendengar berita musibah pada suatu pendakian gunung, banyak diantara mereka yang menjadi korban dan meninggal. Saya mencoba mencari tahu lebih banyak berita sejenis, pada siapa dan mengapa kecelakaan ini terjadi?.

16 Santri Sempat Dikabarkan Hilang di Gunung Salak. (poskota.co.id)

5 pendaki hilang di gunung singgalang (metrotvnews.com)

siswa smk hilang di puncak gunung Kawi (antarajatim.com)

pendaki asal bekasi meninggal (solopos.com)

mayat di gunung Pangrango di evakuasi (bataviase.co.id)

7 pendaki tewas di rinjani (youtube.com)

Begitulah kejadian yang nyata didepan kita, apakah kita menutup mata jika nyawa seakan sudah tak ada harganya. Siapa yang peduli? Siapa yang bertanggung jawab? Siapa yang menelan pahit tercorengnya citra sebuah organisasi, lembaga, bahkan Negara karena tak bisa memfasilitasi rakyatnya untuk sekedar menikmati alam?

Apa kaitannya dengan pendidikan dasar pecinta alam?

Contoh kecelakaan diatas bisa terjadi pada siapa saja. Orang yang professional sekalipun punya resiko yang sama ketika ia menempatkan dirinya di alam bebas. Kita tidak bisa memungkiri adanya kehendak Tuhan, namun yang bisa kita lakukan adalah mengurangi resiko kemungkinan terjadinya kecelakaan tersebut dari sisi manusia nya sendiri (human error). Menjadi sorotan utama apa saja yang kita butuhkan, bukan hanya sekedar fisik dan ilmu. Memang keduanya begitu sangat penting, namun bukan yang terpenting apabila keduanya berdiri sendiri-sendiri. Banyak hal yang terjadi selama dilapangan, kombinasi dari beberapa elemen yang kita miliki bisa menjadi solusi yang lebih baik.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa diksar tidak hanya mempersiapkan skill dalam berkegiatan di Alam, namun juga sebagai tonggak awal berkembangnya mental dan insting mereka. Akhirnya dari kombinasi itu mereka lebih percaya diri, lebih mampu mengukur kemampuannya, dan peka terhadap sekelilingnya. Selalu mempertimbangkan akal sehat dan bukan sekedar menuruti hawa nafsu. Bisa saya katakan bahwa, lebih banyak kecelakaan terjadi (tersesat, hilang, dsb) bukan karena lemah fisiknya, namun karena kurang rasa percaya diri, dan hilangnya fungsi seorang pemimpin. Kondisi demikian berlanjut pada kacaunya komunikasi antar anggota, ketidak percayaan pada pemimpin, rasa takut yang hebat, hingga hilangnya semangat untuk mempertahankan hidup. Disini diksar memiliki peranan yang amat penting sebelum seseorang melangkahkan kakinya di Alam bebas.

Apakah diksar adalah pilihan satunya-satunya? Bagaimana dengan seseorang yang memiliki pengalaman dan jam terbang yang tinggi haruskah juga melewati prosesi ini?

Saya sangat setuju bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, pengalaman dapat lebih menunjukkan identitas dan karakter kita. Apalagi seseorang yang memiliki jam terbang yang tinggi, secara tidak langsung ia telah mendorong dirinya untuk cepat berkembang. Tidak heran bahwa nantinya akan tumbuh daya juang yang tinggi dan respon tubuh yang baik saat kondisi yang tidak diinginkan. Diksar adalah lompatan awal yang akan di follow-up lagi dengan banyaknya jam terbang. Namun tidak mutlak harus dilalui jika ia mampu melompatinya dengan baik dan sama berat porsinya.

Banyak teman saya yang tidak memiliki background PA atau belum pernah melalui prosesi diksar, namun bisa lebih mengkondisikan dirinya dalam berbagai situasi, menghasilkan solusi yang brilliant, dan bisa diandalkan. Dan banyak juga teman saya yang memiliki background PA hanya sebatas kebanggaan akan lencana yang ia pakai, namun tidak bisa menolong dirinya dan bahkan menjadi benalu bagi yang lain. Diksar adalah pintu pertama dalam sebuah kurikulum namun outputnya tergantung dari isi dan orangnya masing-masing. Namun jika kita tidak tahu apa-apa, mengikuti seluruh kurikulum dengan baik adalah jalan yang lebih aman.

Berikut saya coba uraikan beberapa point yang ada dalam diksar pecinta alam:

  1. Pembentukan mental dan karakter yang kokoh
  2. Pembentukan sikap rendah diri dan peduli lingkungan
  3. Pembentukan kapasitas ilmu dalam berkegiatan di alam
  4. Pembentukan kesadaran akan rasa kesamaan, kebersamaan, dan kekeluargaan
  5. Membentuk pribadi yang bijak dan beradab

Beberapa penggalan cerita dibawah ini sekiranya bisa menjabarkan point-point di atas. Sebuah pengalaman pribadi yang saya alami ketika Pendidikan di beberapa organisasi PA..

OTAK YANG ADA DIANTARA PERUT DAN LUTUT

Sebuah keyakinan bagi kita semua, bahwa seluruh manusia dilahirkan dalam keadaan bodoh, lemah fisik dan juga akalnya. Semua kemajuan yang ada pada dirinya berkembang setelah ia mau belajar, merasakan dan memahami apa yang dibutuhkannya. Namun, terkadang kita tak menyadari, ada sesuatu yang teramat penting yang sering kita lupakan seiring meningginya daya pikir manusia, yaitu ‘hati nurani’.

Sedikit pelajaran berharga yang pernah saya dapatkan ketika diksar. Satu keadaan dimana fisik seolah dikembalikan ketitik Nol, tanpa keangkuhan yang biasa merangkul kita berdiri, dan mulut hanya mampu berbicara berdasarkan akal dan perasaan saja. Ada satu pertanyaan panjang yang terlontar ketika itu dan berakhir, “….Apa kamu pintar!!?”, sebuah pertanyaan yang teramat sederhana namun teramat sulit untuk kujawab. Tak terhitung berapa kali otak ini berpikir hingga beban dipunggung serasa pindah dikepala. Dua opsi yang ada, berkata Ya dengan nada terendah atau Tidak! dengan suara lantang dan menerima akibatnya. Tampak jelas terasa ketika tidak ada sesuatupun yang dapat membantu kita, itulah diri kita sebenarnya. Diri kita yang tak berdaya dan hilang semangat ketika tak ada yang menyanjung kita, tak ada teman yang biasa kita susahkan tanpa kita sadari, tidak percaya diri, selalu bimbang jika kita merasa tak membutuhkan orang lain.

Pertanyaan lain yang terlontar, “Ada dimana otakmu!!??”, ini bukan pertanyaan ilmiah, dan sekarang saya baru sadar ini juga bukan jebakan. Sebuah analogi yang merepresentasikan akal saat itu, bahkan membuat seseorang dibawah titik Nol dan akan semakin memperjelas kapasitas orang tersebut. Kunci dari semua itu adalah hati nurani, dimana hatimu berada ia harus terletak diatas akalmu, agar kita tidak besar kepala, sombong dengan apa yang kita bisa. Dan akal tidak sampai dibawah lutut karena ia adalah pangkal kebodohan, tidak ada artinya kebaikanmu dituntun oleh kebodohan. Akalmu harus terletak diantara lutut dan hati/ perut!.

LAYAKNYA TEMBIKAR IA TAKKAN HABIS DIBAKAR

Ada satu cerita yang pernah saya baca di sebuah buletin Pasma54. Sebuah metafora menggambarkan bahwa Diksar, Dikjut , pengembaraan, tak lain adalah sebuah proses yang penting bahkan wajib ada dalam program pendidikan sebuah organisasi penggiat alam. Cerita yang mengubah pandangan saya yang selama ini bisikan-bisikan tetangga telah melembekkan diri saya. Mungkin tidak lazim untuk mereka, karena mereka tidak membutuhkannya. Berbicara hanya pada satu sudut pandang saja, tanpa tahu apa yang terjadi pada para penggiat yang membutuhkannya.

Balada Api dan Tanah Liat!!

Disuatu malam ada sebuah desa yang terkena musibah kebakaran, tak berapa lama semuanya terlahap api yang besar. Sangat tiba-tiba, sehingga penduduk pun tak sempat menyelamatkan barang-barang berharganya, hanya nyawa yang bisa ia bawa. Hari menjelang pagi dan api pun mulai padam. Banyak yang kembali untuk sekedar melihat apa yang bisa mereka bawa dari sisa puing-puing rumah mereka. Semuanya tampak abu, televisi, radio, pakaian, sepeda, semuanya tak luput oleh api. Ada beberapa perabotan yang selamat, aneh beberapa bahkan ada yang masih mengkilap dan utuh: Periuk dari tanah liat yang dibakar, guci, gelas dan piring beling, vas bunga, asbak, celengan dan benda-benda yang terbuat dari keramik. (reoN:2005)

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari sana? Jika kita diibaratkan seperti tembikar atau puing-puing yang selamat, tentu kita akan mengalami proses yang sama dengannya untuk bertahan dari musibah yang datang. Periuk dari tanah liat, harganya murah, namun proses pembuatannya yang ditempa dan dibakar menjadikan ia kuat dilahap api. Seorang tentara yang setiap harinya ditekan dan digembleng, tak lain agar ia siap menghadapi ujian yang sesungguhnya. Dimana ia bergantung pada potensi maksimalnya yang ia dapatkan pada saat latihan. Begitupun seorang PA (Pecinta Alam), ketika mendaki gunung, memanjat tebing, arung jeram, telusur goa, dan lainnya adalah kegiatan yang riskan dan penuh resiko. Kita tak tahu bahaya apa yang mungkin bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Tidak hanya fisik dan keterampilan yang harus ia miliki namun juga mental yang bisa ia bakar.

KETIKA AIR MATA MENETES DIKULIT YANG PENUH DENGAN SAYATAN

“Telah hilang semangat hidup, apabila kita berpikir untuk mati. Akan datang kekuatan baru apabila kita berpikir untuk hidup dan berharap lebih jauh lagi”. Mungkin kekuatan sugesti itulah yang masih menggerakkan tubuhku hingga klimaksnya. Golok yang tak hentinya mengayun dan menghabiskan sendi-sendi tangan ini bergetar dan beberapa kali lepas dari genggaman. Kaki-kaki yang tak lagi kurasakan pijakannya bagaikan sabatang kayu keropos yang ditindih beban yang tak masuk akal beratnya. Lelah, lelah sampai beberapa kali berhalusinasi, itulah istirahatku yang cuma semu ditengah pijakan panjang yang terjal.

Hangatnya sinar matahari, berharap untuk bisa menembus kulitku. Walaupun keringat akan mengucur deras, nampaknya lebih baik daripada terlalu lama menggigil dibalut pakaian basah. Jalan setapak dengan lumpur yang bergejolak menyiprati wajah dan memendam sepatu boot ku, tak sebanding untuk tubuh yang hampir tumbang ini. Hari masih siang namun diufuk telah redup cahayanya,mengisyaratkan dinginnya malam nanti menjadi cobaan yang berat untuk dilewati. Malam dimana luapan kecapaian bercampur aduk dengan harunya peristiwa memilukan.

Perasaan sedih dan cemas melihat rekan yang terserang hipotermia hingga sebatang sendok pun bengkok menahan rahangnya. Mereka yang sempat memuntahkan makanannya tak kecewa walau tadi harus merangkak karena tak ada asupan tenaga. Beberapa orang susah payah mengikat bivak walau jarinya telah kaku kedinginan. Sebuah pemandangan yang teramat pilu dan menggetarkan hati, namun kelelahan dan kepayahan telah dicerna dengan baik, sehingga hanya ada satu kata, “Kebersamaan” apapun yang terjadi.

Ketika air mata menetes di kulit yang penuh dengan sayatan, menjadi arti mahalnya sebuah pengorbanan. Pengorbanan untuk membentuk satu keluarga diatas prinsip kebersamaaan. Bertahan dari berbagai ujian yang datang, semuanya saling menyemangati, saling interospeksi demi tujuan bersama. Hal seperti itulah yang dapat membuka mata bagi orang yang paling egois sekalipun. Sesuatu yang menjadikan tubuh ini seakan hidup kembali, hidup bukan untuk dirinya sendiri tapi juga orang lain. Sebuah pelajaran yang berharga untuk diresapi dan akan diingat sepanjang hayat.

NILAI YANG TAK TERNILAI HARGANYA

Kesamaan dan kebersamaan adalah pondasi yang bisa mewujudkan tali persaudaraan. Tapi apakah pangkal dari kesamaan? Takdir? mungkin pengorbanan lah yang lebih tepat, karena begitu banyak karakter manusia yang takkan bisa disatukan tanpa ada sebab musababnya. Logika akan sejalan dan mengalir dengan waktu dan perubahan zaman, namun perasaan akan membimbing ketika ia melihat kepercayaan, dan kadarnya sebanding dengan apa yang ia saksikan, pembuktian yang nyata sehingga ia tak menempatkan logika diatas segala-galanya.

Edelweiss yang tumbuh di puncak, mengakar keras dalam kebersamaan. Kesetiaannya akan terus abadi walau badai menerjang dan sengatan matahari memudarkan warnanya. Ia dibesarkan oleh perjuangan, tumbuh karena keyakinan dan kesetiaan, dan cobaan lah yang akan membuktikannya. Tidak sedikit bibit-bibit lain yang iri padanya, bahkan yang besar ingin sekali merampasnya. Bibit-bibit kecil ternyata tak lebih berat perjuangannya, dan yang besar terlalu sombong tak membutuhkan yang lain. Sepertinya edelweis tak perlu bersusah payah untuk menjaga keutuhannya dari yang lain.

Perjuangan dan pengorbanan yang sesungguhnya memiliki makna yang mendalam. Ia akan selalu terpatri dalam hati, mengiringi dalam setiap langkah, dan menjadi batu loncatan dalam memperbaiki diri. Sesuatu yang menjadikan seseorang bijak, tidak tampak namun begitu mahal harganya. Amat mahal sehingga Ia takkan rela sesuatu itu direnggut oleh orang lain.

PEKERJAAN RUMAH YANG BERAT

Ada seorang siswa yang menjadi peserta terbaik dalam sebuah pelatihan dasar kepemimpinan yang diadakan sekolahnya. Tapi dia sama sekali tidak terpilih menjadi ketua atau kandidat ketua atau bahkan menjadi anggota OSIS atau MPK sekalipun. Ternyata ada perbedaan penilaian antara penyelenggara pelatihan dengan panitia penyeleksi OSIS-MPK, itu mungkin kalau kita berpikir terlalu positif. Namun itu tidak logis karena menurutnya seperti apa yang digembar-gemborkan bahwa syarat menjadi anggota OSIS-MPK harus melalui tahap pelatihan dasar kepemimpinan, otomatis penilaian mutlak dilihat dari hasil proses tersebut. Bukan dari penilaian pendapat oleh sebagian panitia atau orang yang berkepentingan didalamnya. Satu alasan yang mungkin, adalah karena peserta terbaik itu adalah anggota organisasi Sispala. Diperkuat lagi dengan kenyataan bahwa tak satupun anggota Sispala yang aktif lolos menjadi anggota OSIS-MPK. Satu bukti bahwa kepercayaan guru atau orang-orang yang memegang jabatan tinggi disekolah itu sangat jauh.

Ada lagi seorang mahasiswa yang ingin sekali menjadi seorang penggiat alam. Sudah lama waktu yang ia korbankan dan uang yang ia investasikan untuk bisa menjadi seorang Mapala. Hingga suatu ketika ada proses yang dimana harus ia jalani dan tiba-tiba saja memutuskan untuk hang-out dari acara tersebut bahkan dari organisasi Mapala nya karena desakan Orang Tua. Banyak rumor yang beredar dari mulut ke mulut, bahkan orang yang tidak mengerti membuat celotehan-celotehan sendiri, “Mapala, makan gak makan asal nongkrong” “Mapala, mahasiswa paling lama”, “Mapala, mahasiswa tak punya tata krama”, “Mapala, aliran keras diwadah UKM”dan lain-lain. Menjadikan image tersebut menakutkan bagi orang tua, atau mereka yang ingin masuk Mapala. Memang, menurut sebagian teman itu sebagai salah satu seleksi alamiah bagi seorang anak mami, atau orang yang hanya bergantung pada Ortu. Tapi anggapan-anggapan miring punya akibat lebih fatal untuk keberlangsungan organisasi Mapala tersebut. Mulai dari dipersulitnya pengesahan proposal sampai pada krisisnya regenerasi keanggotaan organisasi Mapala.

Itu hanya sebagian fakta dari banyaknya bentuk diskriminasi yang pernah saya lihat, hingga akhirnya saya tergerak untuk menulisnya dan berharap agar kita semua mau bercermin dan mengoreksi diri masing-masing. Pendidikan Mapala bukan hanya sekedar program kerja, tapi lebih kepada tanggung-jawab dan kepedulian terhadap generasi selanjutnya. Agar nantinya Ia lebih punya kapasitas, tidak dipandang sebelah mata, dan menjadi kebanggaan organisasi, kampus atau sekolahnya.

Thanks to:

PASMA 54

GARBA WIRA BHUANA

SATUBUMI

GALAPALA’08

(agoy, 18 September 2011)

h1

EARTH DAY AND BILLION ACTS TO SAVE THE EARTH

March 31, 2011
h1

TEKNIK DASAR PEMETAAN GOA

January 17, 2011

DASAR-DASAR MEMETAKAN GOA HORIZONTAL DAN VERTIKAL

Speleologi adalah ilmu yang mempelajari goa dan lingkungannya. Goa yang berarti lorongan beserta isinya, sedangkan lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar goa atau dengan kata lain kawasan karst beserta kehidupan disekelilingnya. Penelusuran goa (caving) pertama kali berkaitan erat awal mula berkembangnya ilmu speleologi. Ada beberapa sejarah menyebutkan:

1670 – 1680 Baron John Valsavor dari Slovenia yang pertama kali melakukan deskripsi terhadap 70 gua dalam bentuk laporan ilmiah lengkap dengan komentar, peta, dan sketsa sebanyak 4 jilid dengan total mencapai 2800 halaman

1674 John Beamont seorang ahli Geologi amatir dari Somerset Inggris melakukan pencatatan laporan ilmiah penelusuran Gua sumuran (Potholing) yang pertama kali dan diakui oleh British Royal Society.

1818 Kaisar Habsburg Francis I menjadi orang yang pertama kali melakukan kegiatan wisata di dalam Gua yaitu saat mengunjungi Gua Adelsberg (sekarang Gua Pastonja di eks Yugoslavia)

Secara resmi Ilmu Speleologi lahir pada abad ke -19 berkat ketekunan Eduard Alfred Martel. Hingga kini Edward Alfred Martel disebut Bapak Speleologi Dunia

Dalam menelusuri goa seyogyanya seorang caver dapat mendata serta memetakan goa yang ia telusuri, baik goa vertikal maupun horizontal. Hal ini berguna untuk mendeskripsikan gambaran keadaan secara lebih faktual dan ilmiah, sehingga dapat ditarik kesimpulan secara global dan tepat untuk tujuan lainnya. Di Indonesia sendiri kegiatan speleologi masih terbilang jarang, oleh karenya masih banyak goa yang belum dipetakan. Pendataan dan pemetaan menjadi amat penting untuk menambah database informasi goa-goa di Indonesia.

Dalam memetakan goa (vertikal atau horizontal) terlebih dahulu diperlukan kemampuan dalam menelusuri goa. Untuk penelusuran goa vertikal agaknya lebih sulit karena harus menguasai teknik khusus, yaitu SRT (Single Rope Technicue). Namun untuk pemetaan goa vertikal sering kali lebih cepat  dan mudah dibandingkan goa horizontal. Banyak goa di Indonesia yang lorongnya vertical sekaligus horizontal

Gambar1. Teknik pemetaan goa vertical

Gambar2. Teknik pemetaan goa horizontal

ALAT-ALAT PEMETAAN GOA

1.       Klinometer                      : mengukur kemiringan medan

2.       Kompas bidik                  : mengukur arah

3.       Roll meter                         : mengukur jarak kikabatas (kiri, kanan, bawah, atas)

4.       Lembar worksheet         : mengisi data

5.       Lembar description       : menggambarkan sketsa goa

6.       Alat tulis                             : perangkat tulis

Klinometer bekerja seperti bandul yang menggantung kearah pusat gravitasi. Besar ukuran klino (“+” atau “–“) bergantung pada tinggi rendahnya sasaran yang diukur dari si penembak(pembaca klino).

Kompas bidik yang digunakan bisa kompas lensa prisma atau kompas flat namun saya menganjurkan untuk memakai kompas flat yang sekaligus terdapata Klinometernya. Seperti “Silva Compass Expedition 15 TDCL”yang telah dilengkapi dengan Klino dan cermin untuk memudahkan membaca klino ketika membidik objek atau targetman.

Roll meter yang dipakai berbahan flesibel (jangan memakai yg berpita seng). Bahan kedap air atau sejenisnya.

Lembar worksheet

Lembar description

Alat tulis yang dipakai adalah: pensil, karet penghapus, rautan, mistar, dan clipboard.

Catatan: semua perlengkapan berbahan kertas (lembar description dan worksheet sementara) diusahakan yang bahanKalkir, karena sifatnya yang tidak mudah rontok saat terkena air, hanya mengerut saja. Atau jika tidak ada bisa menggunakan kertas Kodak Tris

JOB DALAM MAPING

1.       Pembaca alat                     : membaca besar sudut kompas dan klinometer (penembak)

2.       Pencatat data                    : mencatat besar sudut yang diukur oleh pembaca alat

3.       Penggambar sket             : menggambar sketsa gua tampak depan (mulut goa, station, pitch, ornament, dll)

4.       Obyek tembak                  : orang yang dikenai sasaran untuk mendapatkan sudut kompas dan klino

5.       Pengukur jarak                 : mengukur ‘long tape’, dan ‘kikabatas’ goa dengan roll meter

6.       Pemimpin regu                 : orang yang memimpin jalannya maping, penentu titik station, pengambil keputusan, dll.

Catatan:

Pembaca alat dan pencatat data harus dekat atau bersebelahan, agar tidak terjadi miss comunication.

Pengukur jarak tidak mutlak ada, bisa dilakukan oleh anggota yang lain.

Long tape            : jarak antara pembaca alat (penembak) dengan targetman

Kikabatas             : jarak (kiri, kanan, bawah, atas) targetman dengan dinding goa

TAHAP-TAHAP DALAM MAPING

1.       Membagi job

Pembagian job disesuaikan potensi yang dimiliki masing-masing individu

2.       Kesepakatan pengukuran

Disepakati mana titik/bagian tubuh yang menjadi sasaran tembak oleh pembaca alat (biasanya dipakai sinar lampu headlamp), berapa sentimeter jarak antara headlamp(titik tembak) dengan tanah dalam posisi berdiri, jongkok, dan tengkurap.

3.       Menentukan starting point dan posisi tiap surveyor

Starting point atau titik awal yang digunakan biasanya mulut goa atau teras goa(daerah perpisahan antara batas gelap dan batas terang). Pada titik ini ditempatkan seorang penembak/pembaca alat ditemani oleh penggambar sket dan pencatat data. Targetman ditempatkan beberapa meter didepannya menuju ke dalam goa(diusahakan pada titik belokan, station, atau pitch). Anggota yang lain bersiap untuk mengganti peran targetman di plottingan ke dua. Sedangkan penggambar sket dan pencatat data selau menuju ketitik awal plottingan yang baru.

4.       Melakukan plottingan pertama

Penembak mengukur kompas dan klino yang diarahkan ke Targetman (sinar headlamp),. Pengukur jarak  mengukur longtape dan “kikabatas” goa dengan roll-meter. Pencatat data mencatat hasil pengukuran dari penembak dan anggota yang mengukur ‘kikabatas’. Penggambar sket mencitrakan gambaran dihadapannya ke media kertas dan menambahkan beberapa keterangan(jarak penembak dengan targetman, posisi penembak dengan kikabatas, ornament, dll).

5.       Melakukan plottingan kedua

Targetman pada plottingan pertama, berganti peran menjadi penembak di plottingan kedua, namun posisinya tetap dititik semula. Seseorang menjadi targetman baru yang ditempatkan beberapa meter kedalam goa dari sang penembak baru. Bisa diganti oleh penembak awal jika anggota sedikit/kurang (penembak dan targetman saling bergantian peran). Melakukan pengukuran dan pencatatan seperti pada plottingan pertama.

6.       Melakukan plottingan selanjutnya dan eksekusi

Plottingan selanjutnya dilakukan sampai batas akhir goa atau sesuai keinginan. Data yang diperoleh diperbaiki dan disalin ulang secara manual agar rapih. Hasil dari gambaran goa juga bisa diperoleh dari memasukan data ke beberapa software pemetaan dan grafik.

KRITERIA PENENTUAN STATION

1.       Terjadinya perubahan arah (gambar 1)

2.       Perubahan bentuk lorong (gambar 2)

3.       Maksimal pengukuran 30 meter (gambar 3)

4.       Terjadi perubahan bentuk elevasi ekstreem (gambar 4)

5.       Leader sudah tidak dapat terlihat oleh orang kedua (gambar 5)

6.       Terdapat ornament atau biota yang unik (gambar 6)

PENGOLAHAN DATA

Data yang telah diambil, kemudian diolah dengan menggunakan beberapa software grafis atau bisa juga secara manual. Kelemahan dari software grafis adalah tidak bisa menggambarkan secara detail struktur permukaan goa, ornament, dan lainnya.

Kelemahan dan kelebihan dari masing-masing cara pengolahan data:

Penggambaran

Software Grafis, dll

Manual

Detail struktur permukaan goa (ornament, dll)

v

Ketepatan merepresentasikan fitur titik

v

Kemampuan mengakomodasi perubahan gradual

v

Kemudahan dalam analisa

v

v

Daftar pustaka

Prihandoko, C. Antonius. Alat Peraga Matematika. Bab Trigonometri/ Klinometer.

Catatan pendidikan dasar dan lanjutan eksplorasi goa dan lingkungannya, HIKESPI 2007

http://adventure.nationalgeographic.com/

Images from google etc.

Design a site like this with WordPress.com
Get started